Di tempat saya biasa turun bis, terdapat beberapa tukang bakso Malang disitu.
Ada 3 sepertinya.
Sore itu saya mencoba mampir di salah satu dan memesan bakso.
Adalah hal jamak menjumpai penjual bakso khas Malang dimana-mana, dan saya berpikir apa bedanya ya.
Sambil makan, saya bertanya sama mas yang jual : “Enak ndhi karo nggon sebelah Mas?” (translate: enak mana dibanding sebelah)
Pertanyaan retorik sebenarnya, karena jawabannya sudah bisa ditebak.
“Enak nggonku rek!” (translate : enak tempat saya pasti)
Sambil tersenyum, aku kembali bertanya pertanyaan yang sama ke beberapa ojek yang juga mangkal dekat situ.
Dari ketiganya yang berjualan bakso, beberapa tukang ojek itu menjawab : “Seng sampeyan mangan iki sing paling enak Mas…” (translate : yang kamu sedang makan itu yang paling enak)
Satu diantaranyamenyeletuk sambil tertawa : “Yo iyo, sampeyan sek dike’i gratis!” (translate : Ya pasti saja, kamu kan suka diberi bakso gratis)
….
Dari pembicaraan singkat malam itu saya berpikir tentang added value.
Tukang bakso tadi mungkin saja rasanya hampir mirip dengan 2 temannya disitu.
Harga saya yakin juga tidak akan berbeda jauh.
Lalu apa yang membuatnya lebih laku dibanding 2 lainnya?
Added value.
Itu jawabannya.
Bentuknya macam-macam, dari yang paling sederhana seperti jawaban tukang ojek tadi : bonus
Atau mungkin sering menggunakan ojek disitu untuk kulakan bahan bakunya, sehingga saling menguntungkan.
Itu muncul dari seorang tukang bakso saja.
….
Lalu bagaimana dengan kita?
Hidup memang tidak hanya melulu jualan, tetapi memberi added value adalah sebuah pilihan
untuk bisa terus bergerak MAJU.
Banyak yang bisa ditemukan dan dibagi kepada orang lain kalau masing-masing kita mau terus menggali
apa sebenarnya added value dalam pribadi kita.
malangjanuariminggukedua2012
0 Responses to “added value”